Informasi Agama Buddha

         Ajaran Buddha berasal dari Siddhartha Gautama atau "Sang Buddha".

Siddhartha Gautama lahir pada 563 SM di sebuah tempat dekat kaki bukit Himalaya, dan kemudian, dia mulai mengajar di sekitar Benares. "Buddha" dibesarkan dan diinformasikan pada masa di mana cita-cita agama Hindu tentang penolakan keluarga dan teman oleh orang suci yang mencari Kebenaran pertama kali tersebar luas.

Menurut ajaran agama Buddha, Siddhartha Gautama adalah pejuang, putra seorang raja dan ratu. Pengalaman dan penglihatan hidupnya membuatnya menyadari aspek menarik dari manusia dan penderitaan mereka. Misalnya, setelah beberapa saat perenungan, Gautama melihat kontras yang mencolok antara kehidupannya dan penderitaan manusia yang membuatnya menyadari bahwa semua kesenangan di bumi hanya sementara, dan hanya dapat menutupi sedikit rasa sakit manusia yang tidak dapat dihindari oleh semua individu.

Oleh karena itu, untuk mencoba melarikan diri dari penderitaan manusia, dia meninggalkan keluarganya dan pergi ke hutan bersama beberapa guru lain untuk menolak masyarakat dimana dia menjadi bagiannya sehingga mereka hampir mati karena kelaparan. Setelah menyadari bahwa membuat dirinya kelaparan dengan teman-temannya tidak akan menyelesaikan penderitaan dunia mana pun dan masalah yang mengakar, dia makan dan bermeditasi di bawah pohon.

Sementara ada banyak teori tentang berapa lama "Buddha" tinggal di bawah pohon untuk bermeditasi, beberapa mengatakan hanya sehari sementara yang lain mengklaim itu lebih seperti enam bulan, akhirnya dia menemukan jawaban yang benar untuk penyebab penderitaan dan pembebasan permanennya.

Nirwana. Mencapai Nirwana adalah keadaan pencerahan yang diupayakan oleh semua penganut Buddha yang taat untuk mengatasi banyak masalah penderitaan di dunia.

Setelah Siddhartha Gautama mencapai Nirvana, ia sebelumnya dikenal sebagai "Buddha" dan mulai mengajar sebanyak mungkin. Doktrin utamanya termasuk Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Berunsur Delapan yang telah diikuti oleh umat Buddha hingga hari ini.

Sebelum menyimpulkan bagian ini, penting untuk menyatakan bahwa meskipun banyak kegiatan dan ajaran Buddha terjadi pada abad ke-6 SM, catatan tentang hidupnya tidak dirilis hingga abad ke-1 atau ke-2 oleh Ashvaghosa. Tulisan kuno tentang Buddha dikenal sebagai Buddha Charita.

Mengenal Lebih Dalam Sidharta Gautama

Siddharta Gautama merupakan pendiri dan penyebar agama Buddha. Sekilas tentang bagaimana agama buda berasal dari Siddartha Gautama telah disebutkan di atas, berikut ringkasan lebih dalam tentang kelahiran, masa kecil, hingga menjadi buddha.

Sidharta Gautama merupakan putra raja dan disebut sebagai pangeran, pangeran siddharta. Siddharta dilahirkan dari Siddhodana (ayahnya) dan Mahamaya (ibunya). Nama Sidharta diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti orang yang mencapai segala cita-citanya, sementara Gautama berasal dari leluhur yang merupakan guru terkenal. Saat kelahirannya, terdapat dua arus kecil jatuh dari langit yang membasuh tubuh Siddharta. Satu arus dingin dan satu arus lainnya hangat. Siddharta tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sangat pandai. Diusianya 7 tahun ia telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dengan baik. Siddharta akhirnya menikah pada usia 16 tahun dengan Putri Yasodhara. Di tahun yang sama, Pangeran Siddharta juga memiliki tiga istana, yakni Istana Musim Dingin (Ramma), Istana Musim Panas(Suramma), dan Istana Musim Hujan (Subha).

Dikisahkan pula, Sidharta Gautama sudah diramalkan memiliki pertanda kehidupan yang agung di masa depan. Sidharta mungkin akan menjadi pemimpin yang sangat hebat bahkan menjadi maharaja seluruh dunia jika menguasai kearifan mengenai cara-cara duniawi. Sementara Sidharta juga dapat menjalani kehidupan religius yang baik dan memperlihatkan pertanda yang mulia. Raja Siddhodana lebih menginginkan anaknya mewarisi kekuasannya sebagai raja dibanding harus menjadi pertapa. Untuk itu, ada empat hal yang tidak boleh dilihat olehnya, yakni orang tua, orang sakit, orang mati dans eorang pertapa. Jika ia melihatnya maka dia akan menjadi pertama dan menjadi Buddha. Namun, saat ia meminta ijin keluar istana, ia melihat empat kondisi terlarang tersebut yang akhirnya memaksanya di usia 29 tahun untuk meninggalkan istri, anak, dan istananya. Siddharta, kemudian bermeditasi menggunakan berbagai guru spiritual yang membimbingnya. Ia bermediasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan penerangan Agung. Namun setelah , enam tahun, Sidharta kemudian mendpaati fakta bahwa bertapa dengan menyiksa diri maupun hidup terllau berfoya-foya bukanlah jawaban yang mampu melampaui penderitaan dan karma yang ebrarti menyimpang dari aliran Hindu pada masa itu. Sidharta pun memutuskan untuk mengembara ke sebelah selatan India untuk mencapai prinsip-prinsip spiritual yang ingin dicapainya. Pada akhirnya di bawah pohon Bodhi, ia memperoleh apa yang dicita-citakannya, yakni ajaran tentang sebab akibat penderitaan dan cara-cara mendapatkan kelepasan yang tersimpul dalam pandangan filosofis. Pertapa Siddharta telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Siddhi di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun.

Komentar